Di halaman ini
- Apa yang berubah pada sambungan dan pengikat?
- Bagaimana peran gambar dan perhitungan?
- Apa arti Kapal Tradisional dalam peraturan?
- Apa yang tetap sama?
- Mana yang lebih mahal dan lebih lama?
- Bagaimana teknologi baru masuk ke kapal kayu?
- Sejak kapan pembuatan kapal pinisi memakai mesin dan cara kerja baru?
- Pertanyaan apa yang sering muncul soal kedua cara ini?
- Dari mana fakta di halaman ini berasal?
- Bagaimana cara menghubungi desk?
Oleh Pembuatan Kapal Pinisi Editorial Desk
Perbedaan cara membangun pinisi tradisional dan modern paling jelas pada tiga hal: pengikat bergeser dari pasak kayu ke baut-mur galvanis, sambungan papan dari tumpul ke bibir miring, dan pengerjaan tanpa gambar berganti gambar serta perhitungan pada sebagian kapal. Urutan papan lebih dulu tetap bertahan. Peraturan punya definisi Kapal Tradisional, tetapi penerapannya perlu ditanyakan per kapal.
Satu catatan sebelum membandingkan: kata "modern" di sini bukan istilah teknis. Sumber yang kami baca tidak menarik garis tegas, dan kami tidak bisa memastikan satu proyek selalu memakai satu cara saja. Tabel ini merangkum perubahan yang tercatat. Makna budayanya tidak kami bahas di sini.
| Aspek | Cara yang lebih lama | Cara yang lebih baru | Asal catatan |
|---|---|---|---|
| Pengikat sambungan | Pasak kayu | Baut-mur galvanis | Buku 2024 |
| Sambungan papan | Tumpul | Bibir miring | Buku 2024 |
| Acuan bentuk | Pengetahuan pengrajin, tanpa gambar tertulis | Gambar kerja; pada satu perancang juga mould frame dan lofting | Disparbud Selayar; Buku 2024; Kasten Marine |
| Dasar ukuran | Metode konvensional (Jurnal Undip 2025 memakai istilah ini untuk pinisi masa kini, jadi cara ini belum tentu sudah lewat) | Perhitungan rancang bangun yang disahkan, bila kapal masuk cakupan aturan | Jurnal Undip 2025; PM 54/2021 |
| Menurunkan kapal ke laut | Tenaga ratusan orang | Katrol, bisa kurang dari puluhan orang | Buku 2024 |
Apa yang berubah pada sambungan dan pengikat?
Buku Perahu Pinisi Membelah Ombak (2024) mencatat dua pergeseran. Pengikat sambungan berpindah dari pasak kayu ke baut-mur galvanis, dan sambungan papan berpindah dari tumpul ke bibir miring. Buku itu mencatat perubahannya, tetapi kami tidak menemukan uji yang membandingkan kekuatan keduanya pada pinisi. Jadi kami tidak bisa mengatakan yang baru pasti lebih kuat dalam setiap keadaan.
Bagi pemilik, perubahan ini menjadi urusan spesifikasi. Bila penawaran hanya menyebut "konstruksi tradisional" atau "konstruksi modern", kata-kata itu belum menjawab apa pun. Yang perlu tertulis adalah jenis pengikat per bagian kapal, bentuk sambungan, dan siapa yang memeriksanya. Rincian pemasangan papan ada di papan lambung dan pemakalan.
Bagaimana peran gambar dan perhitungan?
Di sinilah sumber tampak berbeda, walaupun sebenarnya mereka memotret kapal yang berbeda. Situs pariwisata Selayar menulis bahwa pengrajin Tana Beru bisa membangun perahu tanpa gambar dan tanpa pustaka tertulis. Buku 2024 memuat keterangan lain dari seorang pengusaha kapal pesiar di Bulukumba: semua kapalnya punya gambar, lazimnya dibuat dari Unhas. Itu keterangan satu pengusaha, jadi jangan dianggap berlaku umum. Jurnal Teknik Perkapalan Undip 2025, dari studi satu kapal wisata di Labuan Bajo, menggambarkan pinisi sebagai kapal yang lahir dari metode konvensional, tanpa perhitungan pasti seperti pada kapal modern.
Membaca ketiganya bersama, gambaran yang muncul adalah campuran. Ada kapal yang lahir dari pengetahuan pengrajin, ada yang punya gambar, dan adanya gambar belum berarti perhitungannya lengkap. Karena itu pertanyaan "ada gambar atau tidak" terlalu kasar. Tanyakan gambar apa, dibuat siapa, dan perhitungan apa yang menyertainya.
Peraturan memberi kosakata yang lebih rapi. Pasal 4 ayat (2) PM 54/2021 membagi perancangan menjadi lima langkah: analisa, penelitian, perhitungan, pengujian, lalu pembuatan gambar rancang bangun. Rincian pengesahannya ada di gambar kerja kapal pinisi.
Ada pula jalan tengah yang dicatat perancang. Kasten Marine Design menulis bahwa bentuk lambung pada proyeknya dikunci lewat lofting dan mould frame. Itu cara kerja satu firma perancang, dan belum tentu praktik yang luas.
Apa arti Kapal Tradisional dalam peraturan?
Istilah ini punya arti hukum yang lebih sempit daripada arti sehari-hari. Pasal 1 angka 17 PM 54/2021 menyebut empat ciri, dan kami merangkainya sebagai pertanyaan yang bisa Anda ajukan pada kapal Anda:
- Apakah rancangannya menyesuaikan kearifan lokal?
- Apakah konstruksinya sederhana?
- Apakah bahan utamanya kayu?
- Apakah dibuat di galangan dengan peralatan sederhana?
Layar pinisi dan lambung kayu saja belum menjawab semua butir itu. Label "tradisional" dalam materi penjualan juga bukan penetapan status. Bahasan tentang akibatnya bagi jalur klas ada di BKI kapal pinisi, termasuk contoh pengecualian dalam Pasal 21. Bila status ini berpengaruh pada rencana Anda, minta jawaban tertulis dari Syahbandar setempat. Kami tidak bisa menetapkannya dari sini.

Apa yang tetap sama?
Urutan kerjanya. Buku 2024 mencatat papan dinding dipasang lebih dulu sebelum rangka, dan para pengusaha yang diwawancarai menilai cara ini membuat konstruksi lebih kuat dan rapi. Kasten Marine mencatat kebiasaan yang sama di Indonesia dari luar komunitas pembuat: papan lebih dulu, gading kemudian. Perancang itu pun mempertahankan urutan tersebut ketika memakai mould frame. Jadi yang berubah adalah cara mengendalikan bentuknya, sedangkan urutannya bertahan.
Kayu juga tetap menjadi bahan utama pada kapal yang dibahas di situs ini. Menurut UNESCO, pengetahuannya berpindah dari generasi ke generasi, baik di dalam keluarga maupun ke luar keluarga melalui pembagian kerja. Menurut hemat kami, keterampilan tangan karena itu tetap ikut menentukan hasil, seperti apa pun gambarnya. Sebagian ritual masih berjalan, walaupun buku 2024 mencatat dulu tiap tahap punya upacara, sedangkan kini yang sering tersisa adalah syukuran pada pemasangan lunas dan anyorong. Rangkaian kerja lengkapnya ada di proses pembuatan kapal pinisi.
Mana yang lebih mahal dan lebih lama?
Sumber yang kami buka tidak memberi jawabannya. Belum ada yang membandingkan kedua cara pada kapal berukuran sama, baik untuk biaya maupun waktu, sehingga kami tidak menulis selisih apa pun. Angka waktu yang beredar berasal dari kapal dan tahun yang berbeda; perbandingannya kami susun di jadwal pembangunan. Satu kajian atas kapal kayu yang bukan pinisi wisata, yang kami bahas di halaman BKI, menunjukkan arah selisih biaya material yang tidak seragam antara aturan dan kondisi eksisting. Itu alasan tambahan untuk meragukan anggapan bahwa cara yang lebih tertulis selalu lebih mahal, atau sebaliknya.
Bagaimana teknologi baru masuk ke kapal kayu?
Lewat dua pintu yang berbeda. Pintu pertama ada pada alat kerja: buku 2024 mencatat senso, bor, mesin potong, klem, dan katrol di samping pahat dan kapak. Pintu kedua ada pada sistem kapal, dan di sini cara kerjanya bisa berubah jauh. Kasten Marine menilai memasang sistem kapal di Indonesia tidak mudah, dan rinciannya ada di panduan mesin dan sistem. Itu pendapat satu perancang, tanpa tanggal yang jelas. Bagi pemilik, artinya sebuah kapal bisa dibangun secara tradisional pada lambungnya, sekaligus bergantung pada tim lain untuk mesin dan kelistrikan.
Sejak kapan pembuatan kapal pinisi memakai mesin dan cara kerja baru?
Penelitian Universitas Negeri Makassar menempatkan titik baliknya pada 1970-an: motorisasi mulai dirintis, perangkat navigasi dipasang, alat tradisional berganti alat modern, dan pekerja tidak lagi terbatas pada kerabat dan warga Ara. Jurnal Universitas Hasanuddin 2021 menjelaskan sisi rancangannya: lambung dengan batang dan buritan lebih lurus, yang disebut lambo atau lamba, memberi ruang mesin, dan kapalnya digolongkan kapal layar motor. Wikipedia bahasa Indonesia juga mencatat lambo pada pinisi bermotor diesel.
Perubahan itu membuat sebutan kapal ikut diperdebatkan. Seorang pekerja di Tana Beru kepada Mongabay 2024 menyebut kapal yang sedang ia kerjakan kapal motor kayu, bukan pinisi, dan menunjuk balok tegak di bagian belakang sebagai bedanya. Penelitian tadi juga mencatat makna ritual bergeser dari persembahan menjadi acara syukur. Bagi pemilik, kata pinisi pada penawaran belum menjelaskan apa pun tentang lambung, mesin, atau layar. Minta ketiganya ditulis terpisah.
Pertanyaan apa yang sering muncul soal kedua cara ini?
Apakah pinisi modern masih memasang papan lebih dulu?
Ya, menurut catatan yang kami baca. Pengusaha yang diwawancarai dalam buku 2024 dan perancang Kasten Marine sama-sama mencatat papan dipasang sebelum rangka, termasuk ketika perancang memakai mould frame untuk mengendalikan bentuk.
Apakah baut galvanis lebih baik daripada pasak kayu?
Kami tidak bisa menyimpulkannya. Sumber mencatat pergeseran dari pasak ke baut-mur galvanis, tetapi kami tidak menemukan uji kekuatan pembanding pada pinisi. Tulis jenis pengikat per bagian kapal di spesifikasi, dan tanyakan alasan pemilihannya.
Apakah kapal tanpa gambar masih boleh dibangun?
Tidak, untuk kapal dalam cakupan PM 54/2021, karena perhitungan dan gambar rancang bangunnya wajib disahkan. Cakupannya ditentukan ambang 10 meter dan/atau GT 7. Bila ada yang menawarkan pengecualian, minta dasar tertulisnya.
Apakah pinisi wisata otomatis tergolong Kapal Tradisional?
Tidak otomatis. Definisinya punya empat ciri, dan kami belum bisa memastikan penerapannya pada kapal wisata besar. Minta jawaban tertulis dari Syahbandar setempat bila status itu memengaruhi rencana Anda.
Cara mana yang sebaiknya dipilih pemilik?
Pilihan itu sebaiknya diputuskan per bagian kapal, dan tidak sebagai satu label untuk seluruh kapal. Tuliskan pengikat, sambungan, gambar, dan perhitungan yang Anda minta, lalu nilai apakah pembangun bisa menunjukkan cara memeriksanya.
Dari mana fakta di halaman ini berasal?
- Buku Perahu Pinisi Membelah Ombak (terbit 2024), hasil wawancara di Bulukumba
- Kasten Marine Design: catatan perancang tentang mutu phinisi
- Dinas pariwisata Kabupaten Kepulauan Selayar: Menyinggahi pembuat perahu phinisi di Bulukumba (2014)
- Jurnal Teknik Perkapalan Undip (2025): studi satu kapal wisata di Labuan Bajo
- Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 54 Tahun 2021 (naskah di BPK)
- UNESCO: Pinisi, art of boatbuilding in South Sulawesi (elemen 01197)
- Jurnal Pendidikan Sejarah UNM: Pembuatan perahu pinisi di Desa Ara, 1970-2017
- Jurnal Universitas Hasanuddin 2021: Kajian kebutuhan material pada konstruksi lambung kapal phinisi
- Wikipedia bahasa Indonesia: Pinisi
- Mongabay: Kapal kayu Sulawesi, darimana pasokan bahan bakunya? (Juni 2024)
Bagaimana cara menghubungi desk?
Bila Anda sudah tahu bagian mana yang ingin dibuat dengan cara lama dan mana dengan cara baru, tuliskan dalam permintaan ke WhatsApp 6281139414563 atau bd@juaraholding.com.
Kirim ukuran, kelas, dan fungsi kapal. Desk menjawab dengan penawaran tertulis.
Minta penawaran lewat WhatsApp bd@juaraholding.com